Jumat, 03 Februari 2012

Kemulyaan Itu Diraih Dengan Membesarkan Hatinya



Assalamualaikum ..Bismillahi Rahmaani Rahiim..

Dua orang yang mempunyai penyakit serius menempati kamar yang sama di Rumah Sakit.
Pasien yang satu, setiap  siang hari dibolehkan duduk  selama  satu jam  supaya  cairan yang ada  di paru-parunya cepat hilang dan tempat  tidurnya terletak di sebelah jendela satu-satunya di kamar itu.Sedang Pasien yang satunya lagi hanya dapat  berbaring di atas  punggungnya  setiap hari.

Kedua  orang  ini berbicara tentang  istri, keluarga, rumah tangga, pekerjaan dan keterlibatan mereka dalam tugas-tugas  militer.
Setiap  siang, ketika pasien yang dekat  jendela  duduk, ia  menghabiskan waktunya bercerita kepada  teman  sekamarnya tentang  semua yang ia lihat dari balik jendela.
Teman sekamarnya selama satu  jam hidup  dalam dunia yang  lebih luas. Kegiatan dan  warna dunia  luar  membuatnya lebih bergairah hidup.

Jendela  itu  menghadap  ke taman yang di dalamnya ada telaga  yang  indah.
Angsa  dan  itik bermain di atas  air sementara anak-anak  melayarkan  kapal-kapal mainannya. Sepasang  kekasih jalan bergandeng  tangan di antara bunga-bunga yang berwarna-warni  seperti pelangi.

Pohon tua yang besar menambah indahnya pemandangan.
Garis bayangan  kota  terlihat  di kejauhan. Setiap kali pasien yang di dekat jendela menjelaskan semuanya  secara indah dan rinci, teman  sekamarnya  memejamkan mata  membayangkan pemandangan  itu.
Suatu siang yang hangat, pasien yang di dekat jendela menceritakan parade yang lewat.

Meskipun teman sekamarnya sama sekali tidak mendengar suara drum band, tapi ia dapat melihat parade itu dalam pikirannya karena temannya menggambarkannya dengan jelas. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan.

Suatu  pagi, perawat yang datang membawakan air untuk  mandi mereka mendapati tubuh  pasien dekat  jendela sudah  tidak  bernyawa.
Ia  meninggal dengan  penuh  kedamaian dalam  tidurnya.
Perawat  yang  selama ini telah  merawatnya merasa sedih.
Ia  memanggil karyawan rumah sakit untuk  memindahkan mayat  itu.

Setelah  menganggap layak waktunya, pasien yang lain bertanya apakah ia boleh pindah ke dekat jendela. Perawat  tidak keberatan  dengan  pergantian tempat ini.
Setelah  merasa bahwa sang pasien telah berbaring dengan  nyaman di sebelah jendela, sang perawat  pergi  meninggalkannya sendiri.

Perlahan-lahan  dengan  menahan sakit, pasien itu menggunakan sikunya agar tubuhnya naik dan dapat  melongok ke jendela.
Akhirnya ia bakal  melihat pemandangan indah  itu dengan  mata kepalanya   sendiri.
Ia tegangkan  badannya lalu perlahan-lahan berputar  untuk  melihat ke jendela.
Betapa  kagetnya  ketika ia mengetahui bahwa di balik jendela itu hanya tembok belaka.

Si pasien  lalu  menceritakan  kejadian yang dialaminya kepada  perawat.
“Apa gerangan  yang  membuat teman sekamarku berbuat demikian?” Tanya si pasien kepada perawat.
“Lelaki  itu  sesungguhnya buta, tembok yang ada  di seberang  jendela  itu pun  tak  dapat dilihatnya.” Jelas si perawat.
“Mungkin  ia ingin  membesarkan hatimu…….!!!”

Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun.. Allahu Akbar…
Selamat  Jalan  Saudaraku. Sungguh  Sangat  Mulya  Hatimu.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh .

(An)

Jadilah Diri Sendiri



Assalamualaikum… Bismilahi rahmani rahiim


Di pinggir sebuah kota, tinggal seorang seniman pematung yang sangat terkenal di seantero negeri. Hasil karyanya yang halus, indah, dan penuh penghayatan banyak menghiasi rumah-rumah bangsawan dan orang-orang kaya di negeri itu.
Bahkan, di dalam istana kerajaan hingga taman umum milik pemerintah pun, dihiasi dengan patung karya si seniman itu.

Suatu hari, datang seorang pemuda yang merasa berbakat memohon untuk menjadi muridnya. Karena niat dan semangat si pemuda, dia diperbolehkan belajar padanya. Bahkan, ia juga diijinkan untuk tinggal di rumah paman si pematung.

Sejak hari itu, mulailah dia belajar dengan tekun, mengukur ketepatan bahan adonan semen, membuat rangka, cara menggerakkan jari-jari tangan, dan mengenali setiap tekstur sesuai bentuk dan jenis benda yang akan dibuat patung, dan berbagai kemampuan mematung lainnya.

Setelah belajar sekian lama, si murid merasa tidak puas. Sebab, menurutnya, hasil patungnya belum bisa menyamai keindahan patung gurunya. Dia pun kemudian menganalisa dengan seksama, lantas memutuskan meminjam alat-alat yang biasa dipakai gurunya. Dia berpikir, rahasia kehebatan sang guru pasti di alat-alat yang dipergunakan.

“Guru, bolehkan saya meminjam alat-alat yang biasa Guru pakai untuk mematung? Saya ingin mencoba membuat patung dengan memakai alat-alat yang selalu dipakai guru agar hasilnya bisa menyamai patung buatan Guru.” “Silakan pakai, kamu tahu dimana alat-alat itu berada kan? Ambil saja dan pakailah,” jawab sang guru sambil tersenyum.

Selang beberapa hari, dengan wajah lesu si murid mendatangi gurunya dan berkata, “Guru, saya sudah berusaha dan berlatih dengan tekun sesuai petunjuk Guru, memakai alat-alat yang biasa dipakai Guru. Kenapa hasilnya tetap tidak sebagus patung yang Guru buat?”

“Anakku, gurumu ini belajar dan berlatih membuat patung selama puluhan tahun. Mengamati obyek benda, mencermati setiap gerak dan tekstur, kemudian berusaha menuangkannya ke dalam karya seni dengan segenap hati dan seluruh pikiran. Tidak terhitung berapa kali kegagalan yang telah dibuat, tapi tidak pernah pula berhenti mematung hingga hari ini. Bukan alat-alat bantu yang engkau pinjam itu yang kamu butuhkan untuk menjadi seorang pematung handal, tetapi jiwa seni dan semangat untuk menekuninya yang harus engkau miliki. Dengan begitu, lambat laun engkau akan terlatih dan menjadi pematung yang baik.”

Untuk menciptakan sebuah maha karya, tidak cukup hanya mengandalkan talenta semata. Kita butuh proses belajar dan ketekunan berlatih bertahun-tahun. Bahkan, meski dibantu alat-alat secanggih apapun, hasil yang didapat sebenarnya sangat tergantung pada tangan-tangan terampil dan terlatih yang menggerakkannya.

Demikian pula dalam kehidupan ini, membutuhkan waktu, fokus dan kesungguhan hati dalam mewujudkannya hingga tercapai kesuksesan yang membanggakan!!!

“Terima kasih Guru, saya berjanji akan terus berlatih,...”

Wassalamu'alaikum  Warahmatullahi  Wabarakatuh .                            

(An)

Jangan Mudah Berprasangka


Assalamualaikum.. 
Bismillahi Rahmaani Rahiim…..

Seorang pemain sirkus memasuki hutan untuk mencari anak ular yang akan dilatih bermain sirkus. Beberapa hari kemudian, ia menemukan beberapa anak ular dan mulai melatihnya. Mula-mula anak ular itu dibelitkan pada kakinya.

Setelah ular itu menjadi besar dilatih untuk melakukan permainan yang lebih berbahaya, di antaranya membelit tubuh pelatihnya. Sesudah berhasil melatih ular itu dengan baik, pemain sirkus itu mulai mengadakan pertunjukkan untuk umum. Hari demi hari jumlah penontonnya semakin banyak.

Uang yang diterimanya semakin besar. Suatu hari, permainan segera dimulai. Atraksi demi atraksi silih berganti. Semua penonton tidak putus-putusnya bertepuk tangan menyambut setiap pertunjukkan. Akhirnya, tibalah acara yang mendebarkan, yaitu permainan ular. Pemain sirkus memerintahkan ular itu untuk membelit tubuhnya.

Seperti biasa, ular itu melakukan apa yang diperintahkan. Ia mulai melilitkan tubuhnya sedikit demi sedikit pada tubuh tuannya. Makin lama makin keras lilitannya. Pemain sirkus kesakitan. Oleh karena itu ia lalu memerintahkan agar ular itu melepaskan lilitannya, tetapi ia tidak taat. Sebaliknya ia semakin liar dan lilitannya semakin kuat. Para penonton menjadi panik, ketika jeritan yang sangat memilukan terdengar dari pemain sirkus itu, dan akhirnya ia terkulai mati.

Demikian pula dengan dosa terlihat tidak membahayakan. Kita merasa tidak terganggu dan dapat mengendalikannya. Bahkan kita merasa bahwa kita sudah terlatih untuk mengatasinya. Tetapi pada kenyataanya, apabila dosa itu telah mulai melilit hidup kita, sukar untuk dapat melepaskan diri lagi daripadanya.

Wassalam mualaikum Wa rahmatullahi Wa barokatuh……



(AN)

Inspirasi...Suri Tauladan Berbakti Kepada Ibu



Assalmualaikum ..   
Bismillahi Rahmaani Rahiim

Ibu adalah sosok wanita istimewa bagi seseorang. Seorang lelaki tak akan lahir ke bumi kalau tidak ada seorang wanita bernama ibu. Tanpa jengah oleh tuduhan ngawur kaum feminis yang menganggap Islam bersikap diskriminatif terhadap wanita, Islam sudah menekankan untuk menghormati dan memuliakan kaum wanita. Bagaimana berbakti kepada Ibu?
Sejarah hidup para ulama as Salaf bertabur dengan kisah-kisah bakti kepada sang ibu. Bila dicermati bahkan sikap mereka nyaris mustahil dilakukan oleh orang-orang biasa. Memang, mereka bukanlah manusia biasa. Kehidupan mereka sarat manikam hikmah yang sangat berharga untuk dijadikan sebagai butiran-butiran keteladanan.
Muhammad bin al-Mukandar menuturkan, “Saat saudaraku, Umar, sibuk menghabiskan malamnya untuk melakukan shalat, aku justru sibuk memijat-mijat kaki ibuku. Aku tidak rela seandainya malamku digantikan dengan malam seperti yang dia lakukan.”a
Shalat malam adalah ibadah yang penuh keutamaan, bahkan sebuah tradisi orang shalih. Berbakti kepada seorang ibu, ternyata melebihi nilai ibadah tersebut. Lebih-lebih bila atas permintaan sang ibu.
Ibnu Aun pernah bercerita, “Syahdan, ada seorang lelaki yang ingin menemui Muhammad bin Sirin di rumah ibunya. Orang itu bertanya, ‘Sebenarnya apa yang dikerjakan Muhammad di rumah ini? Ada keperluan apa sehingga sering kemari?’ Orang-orang di situ menjawab, ‘Tidak ada. Cuma demikianlah kerjanya, selalu terlihat sibuk bila berada di rumah ibunya.”b
Para ulama as Salaf demikian besar perhatiannya terhadap kepentingan dan kebahagiaan seorang ibu. Bila perlu berusaha mencari apa saja yang bisa dikerjakan, demi menyenangkan sang ibu, meski harus “membuang” banyak waktu.
Hafshah binti Sirin berkata, “Putraku Hudzail biasa mengumpulkan kayu bakar pada musim panas untuk dikuliti. Ia juga mengambil bambu dan membelahnya. Aku tinggal mendapatkan enaknya saja. Bila datang musim dingin, ia membawakan tungku dan meletakkan di belakang punggungku, sementara aku sendiri berdiam di tempat shalatku. Setelah itu ia duduk, membakar kayu bakar yang sudah dikupas kulitnya, berikut bambu yang telah dibelah sebagai bahan bakar yang asapnya tidak mengganggu, tapi bisa menghangatkan tubuhku. Demikianlah yang dia lakukan dari waktu ke waktu.“c
Begitu indah panorama kehidupan manusia-manusia pilihan tersebut. Cinta kasih mereka terhadap sang ibu, yang telah melahirkan dan membesarkan mereka, sungguh memikat hati. Seolah-olah tak sedikit pun mereka membiarkan diri melakukan secuil kesalahan terhadap ibu mereka.
“Ibnu Aun menceritakan bahwa suatu hari sang ibu memanggilnya, namun disambutnya panggilan itu dengan suara yang menurut anggapannya lebih keras dari suara ibunya. Serta merta beliau membebaskan dua orang budak.”d
Mereka bukan saja berupaya berbuat baik kepada sang ibu, namun juga menjaga batas-batas dalam berbicara, agar tidak sampai melontarkan kata-kata yang dapat menyinggung perasaan ibu mereka.
Hafshah binti Sirin menceritakan, “Bila suatu saat Muhammad (bin Sirin) menemui ibunya, dia tidak pernah banyak berbicara dan mengumbar omongan yang tidak perlu, demi mengormati ibu.”e
Kisah-kisah hebat tersebut menyodorkan sebuah gambaran, betapa berbakti kepada seorang ibu dalam pandangan para ulama yang shalih adalah pekerjaan yang sangat mulia. Memang, tidak ada amalan yang lebih bernilai bagi seorang hamba, sesudah tauhid, dibanding berbakti kepada sang ibu. Bukankah Allah menyandingkan perintah untuk untuk berbuat kepada orang tua setelah tauhid?!
Ada seorang lelaki menemui Ibnu Abbas seraya menuturkan kisahnya, “Aku pernah mencintai seorang wanita, lalu meminangnya, namun ditolak. Setelah itu datang pria lain meminangnya, ternyata diterima. Aku merasa cemburu sehingga membunuhnya. Duhai, apakah aku berkesempatan untuk bertobat?’ Ibnu Abbas balik bertanya, ‘Apakah ibumu masih hidup?’ Lelaki itu menjawab, ‘Tidak.’ Ibnu Abbas berkata, ‘Kalau begitu, bertobat saja kepada Allah dan beramallah sebisamu.’ Seseorang yang hadir di situ bertanya kepada Ibnu Abbas, ‘Kenapa engkau menanyakan tentang ibunya?’ Ibnu Abbas menjawab, ‘Aku tidak mengetahui adanya suatu amalan yang lebih mampu mendekatkan seseorang kepada Allah selain berbakti kepada seorang ibu!”f
Betul-betul sebuah perikehidupan yang teramat sayang diabaikan. Dari perikehidupan yang begitu agung, perikehidupan anak manusia yang demikian berbakti kepada ibunya, muncul sosok-sosok pribadi yang juga amat dimuliakan oleh ibunya. Al Rabi`bin Khutsaim adalah salah satu contohnya. Beliau adalah salah satu ulama tabi`in yang utama dan satu di antara delapan orang yang hidup zuhud di zamannya. Merupakan orang Arab asli dari suku Mudhar, silsilahnya bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam pada kakeknya, Ilyas dan Mudhar. Beliau tekun menjalankan ketaatan kepada Allah semenjak kecil.
Seringkali ibunya terbangun di tengah malam dan melihat dia masih berada di mihrabnya, berenang dalam munajat kepada Allah dan tenggelam dalam kekhusyukan shalatnya. Sampai ibunya memanggil, ‘Ananda Rabi’, kenapa engkau tidak juga tidur?’ Dia menjawab, ‘Bagaimana seseorang yang di waktu gelap khawatir akan diserbu musuh, akan bisa tidur nyenyak?” Air mata ibu pun meleleh di pipinya, lalu didoakanlah putranya agar mendapat kebaikan.
Semakin dewasa, takwa dan takutnya kepada Allah semakin bertambah. Kadang-kadang ibunya merasa khawatir karena seringnya melihat puteranya menangis sendiri di gelapnya malam, sementara kebanyakan orang masih asyik menutup matanya. Ibunya menyangka yang bukan-bukan dan memanggilnya, ‘Apa yang terjadi padamu wahai anakku, apakah engkau telah melakukan kejahatan atau telah membunuh jiwa?’ Beliau menjawab, ‘Benar ibu, aku telah membunuh seorang jiwa!’
Sang ibu bertanya, ‘Siapakah yang kau bunuh, nak? Katakanlah agar aku bisa meminta orang-orang menjadi perantara damai dengan keluarganya, semoga mereka memaafkamu. Demi Allah seandainya keluarga korban itu mengetahui tangisan dan penderitaanmu tentulah mereka akan kasihan melihatmu.’
Beliau berkata, ‘Wahai ibu… jangan beritahukan kepada orang lain, aku telah membunuh jiwaku dengan dosa-dosa!’ Allahu akbar…! Indah sekali mereka berbakti kepada sang ibu.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh .

 

Catatan:
a Shifatush Shafwah, II/143.
b Shifatush Shafwah, III/245.
c Shifatush Shafwah, IV/25.
d Siyaru A’lamin Nubala, VI/366.
e Shifatush Shafwah, III/245.
f Diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dalam Al-Adab al-Mufrad, I/45.

Rabu, 01 Februari 2012

Kenangan Indah Terhadap Ibu


 
 Assalamu'alaikum ..Bismillahi rohmaani rohiim

Kenang-lah IBU yang menyayangi-mu,,

 “ Untuk IBU..... Yang selalu meneteskan air-mata ketika kau pergi,,,
“ Ingat-lah engkau.... Ketika IBU-mu rela tidur tanpa selimut, demi menyelimuti-mu agar tidur nyenyak dengan dua selimut membalut tubuh-mu,,, 

“Ingat-lah engkau... Ketika jemari IBU mengusap lembut kepala-mu,,,, “ Dan ingat-lah engkau..... Ketika air-mata menetes dari mata IBU-mu, ketika melihat-mu terbaring sakit,,,
“Sesekali jenguk-lah IBU yang selalu menantikan kepulangan-mu dirumah tempat kau dilahirkan,,, “ 

Kembali-lah memohon maaf pada IBU-mu yang selalu Rindu akan senyuman-mu,,,
 “ Simpan-lah sejenak kesibukan-kesibukan Duniawi yang selalu membuat-mu lupa untuk pulang,,, “ Segera-lah jenguk IBU-mu yang berdiri menanti kedatangan-mu didepan pintu, bahkan sampai malam-pun kian larut,,, 

Jangan biarkan engkau kehilangan saat-saat yang akan kau Rindukan dimasa datang,,,
 “ Ketika IBU telah tiada.... Tak ada lagi yang berdiri didepan pintu menyambut kita,, “ Tak akan ada lagi senyuman Indah tanda Bahagia,, Yang ada hanya-lah kamarnya yang kosong,, iada lagi penghuninya,,, “ Yang ada hanya-lah baju yang digantung dilemari kamarnya,,,, 

“ Tak ada lagi yang menyiapkan sarapan pagi untuk-mu makan,,, “ Tak ada lagi yang rela merawat-mu sampai larut malam ketika kau sakit,,, “ Tak ada lagi... Dan tak akan ada lagi yang meneteskan air-mata mendo'akan-mu disetiap hembusan Nafasnya,,,,
“ Sahabat..... Kembali-lah segera.... Peluk-lah IBU yang selalu menyayangi-mu,, Cium-lah kaki IBU yang selalu merindukan-mu,,, Dan berikan-lah yang terbaik di akhir Hayatnya,,, 

“ Berdo'a-lah untuk kesehatan nya,,, Dan rasakan-lah pelukan Cinta dan Kasih-Sayang nya,, “ Jangan biarkan engkau menyesal dimasa datang,,,
 “ Kembali-lah kepada IBU yang selalu menyayangi-mu selagi masih ada waktu,,, Kenang-lah semua Cinta dan Kasih-Sayang nya yang telah IBU berikan kepada-mu,,, 

“ IBU.... Maafkan aku,, Sampai kapan-pun jasa-mu tak akan terbalas,,

 “TERIMAKASIH  IBU  DAN SELALU  KUINGAT  SURGA  ADA  DIBAWAHMU”


Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh .

Egonya Seorang Ayah



Assalamualaikum..Bismillahi Rahmani Rahim   

           Suatu sore, Zahra sedang duduk bersama ayahnya di ruang keluarga. Keduanya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Zahra, gadis kecil berumur 5 tahun itu sedang bermain dengan buku gambarnya. Sedang sang ayah, tampak tekun membaca majalah.

           Sesaat kemudian, Zahra mendekati ayahnya. Ia lalu bertanya, “Ayah, ini gambar apa? Belum selesai ayahnya menjawab, Zahra kembali bertanya, “Kok, hewan ini ada buntutnya? Sang Ayah, dengan sabar menjelaskan semuanya. Disisihkannya majalah di tangannya dan dipeluknya Zahra.

            Beberapa lama berselang, Ayah lalu berkata, “Baik, kalau sudah selesai, ayo teruskan saja sendiri ya, sayang. Ayah sibuk. Zahra pun kembali ke tempatnya semula.
Namun, belum lima menit usai, Zahra kembali datang dan bertanya banyak hal. Dia mengoceh tentang hewan, hingga hal-hal yang diluar khayalan. Ayah pun mulai tampak segan dengan semua pertanyaan itu. Sebab, ia ingin sekali menyelesaikan bacaannya. “Ah, kalau saja aku bisa menyibukkan anak ini dengan pekerjaan lain, ” gumam Ayah,” tentu, ia tak akan membuatku repot. Begitu pikirnya dalam hati.
Aha, Ayah pun menemukan ide. Diambilnya gambar rumah dari sebuah majalah lama. Dan diguntingnya gambar itu menjadi beberapa bagian. Ia ingin membuat puzzle!. Tentu, anak umur 5 tahun, akan sulit sekali menyusun puzzle yang bergambar rumah. Ia lalu berkata pada Zahra yang sejak tadi memperhatikannya.

             ” Zahra, sekarang Ayah punya permainan. Ayo, coba susun kembali kertas ini jadi gambar rumah. Nanti, kalau sudah selesai, baru kamu boleh kembali ke sini. (–Hmm..tenanglah aku sekarang. Aku akan bisa menyelesaikan bacaanku, dan ia pasti akan sibuk sekali dengan pekerjaan ini, begitu gumam ayah.–)
Tiba-tiba. “Aku sudah selesai!” Belum 5 menit berlalu, kini, Zahra sudah kembali dengan susunan gambar rumah itu. Ayah pun bingung, bagaimana bisa ia menyelesaikan tugas yang sulit itu? Ayah lalu bertanya, “Bagaimana caranya kamu menyusun gambar rumah ini? Pasti kamu minta tolong Bunda deh.”

               Mata bulat gadis itu berbinar, “Nggak kok. Aku membuatnya sendiri. Sebab, dibalik gambar ini, ada gambar boneka kesukaanku. Jadi, aku menyusun gambar itu saja. Ini, gambar bonekaku, aku senang sekali dengannya.
Sang Ayah pun terdiam. Ia kalah, dan harus siap kembali menerima semua ocehan gadis kecilnya ini.
Beri  Kesempatan  Untuk  Dekat Dengannya…

Wassalamu'alaikum  Warahmatullahi  Wabarakatuh .

Anak Yang Durhaka Terhadap Orang Tuanya



Assalamualaikum..Bismillahi  Rahmaani  Rahiim

Diceritakan ada sebuah keluarga di daerah Jawa Barat pada tahun 1950. Ayahnya seorang supir pribadi dan anaknya ada 7 orang, 1 perempuan dan 6 laki-laki.Dari keenam anak laki-laki ada 1 orang anak yang sangat bandel, dan kasar kepada orangtuanya sendiri sehingga orangtuanya sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Jika keinginannya tidak dipenuhi dia akan mengamuk, menghancurkan barang-barang milik orangtuanya bahkan setelah dia menginjak dewasa dia sering memaksa meminta uang kepada orangtuanya dengan ancaman akan membunuh orangtuanya sendiri.

Setelah dewasa lelaki itu jatuh cinta kepada seorang wanita cantik dari sumatera barat. Wanita ini mengejar-ngejar lelaki itu sampai mau bunuh diri kalau tidak direstui oleh orangtuanya. Akhirnya mereka menikah pada tahun 1975 dan dikaruniai 2 orang anak yang terdiri dari 1 anak laki-laki dan yang kedua anak perempuan.  Awal pernikahan mereka bahagia sekali karena cukup hartanya tetapi disaat anak-anaknya berusia 10 tahunan, mulailah goyang perekonomian, lelaki itu kehilangan pekerjaan dan penghasilan.


Lelaki itu stress dia sakit hati banget bagai petir menyambar diatas kepalanya karena status pernikahannya belum bercerai. Lelaki itu hidup sebatang kara sengsara jadi gelandangan, dia ingin pulang ke Jabar tapi tidak punya ongkos tidak ada uang sepeserpun. Suatu hari lelaki itu bertemu dengan orang Jawa dan orang jawa itu merasa kasian dia memberi makan dan ngobrol “darimana asalmu de?” lelaki itu menjawab “sayah mah dari Jabar, sayah teh bukan orang sumatera, saya ingin pulang ke Jabar ke kampung halaman tapi tidak punya uang”. 

Setelah lama bercerita akhirnya orang jawa itu mengajak pulang ke Jabar dengan memberi ongkos. Setelah sampai di Jabar dan tiba di rumah orangtuanya, orang jawa itu mengantar dan menceritakan keadaan lelaki itu di Sumatera hidup terlunta-lunta sejak diusir istrinya. Setelah itu orangtuanya berusaha mengobati ke paranormal tetapi tidak ada hasilnya, paranormal mengatakan bahwa lelaki itu diguna-guna oleh istrinya agar lelaki itu menjadi gila. 

Mendengar hal itu orangtuanya jadi kecewa karena anaknya tidak bisa sembuh lagi sampai berobat ke berbagai tempat.Setelah beberapa tahun orangtuanya meninggal dunia. Lelaki itu hidup sendiri lagi hanya adiknya yang mengurusnya di Ciamis sedangkan adik yang lainnya sudah berumah tangga dan takut kepada lelaki itu karena dia sering mengamuk dan jahat kepada adiknya karena pelampiasan yang tidak bisa marah kepada istrinya yang di Sumatera.

Menginjak usia 40 tahun lelaki itu meninggal dunia di Ciamis, adik- adiknya menguburkannya. Suatu hari setelah 2 tahun lelaki itu meninggal, anaknya yang di Sumatera juga meninggal yang perempuan karena tidak diurus oleh ibunya terkena keracunan makanan, sedangkan anak yang laki-laki pergi mencari ayahnya ke Jabar tetapi sayang ayahnya itu sudah meninggal dunia sehingga dia tidak bisa bertemu Ayahnya lagi…

Dan Anak Laki Inipun Sedih sekali , Karena Ayahnya tempat peraduan kalau ada masalah sudah tidak ada disampingnya…….

Wassalamu'alaikum  Warahmatullahi  Wabarakatuh .