Rabu, 15 Februari 2012

Pentingnya Pengawasan Terhadap Perkembangan Anak

AssalamualaikumWarahmatullahi Wabarakatuuh
Bismillahirrahmanirrahiim

 “Ara!!! Cepetan entar telat pergi sekolah lho…” Pekik Mamaku sayang dari luar pintu kamar mandi.
“Iya, Ma…” Jawabku dan hampir saja menelan sikat gigi yang sedang kupakai. “Uh, si Mama…” Omelku sambil melanjutkan sikat gigiku.
Pagi itu adalah pagi yang sangat gempar. Mamaku, Papaku dan adikku, kubuat repot semua karena hari itu adalah hari pertamaku untuk memakai seragam putih abu-abu.
“Papa!!! Kaus kaki polkadotku kemana…” Jeritku dari kamar.
“Tika!!! Jepitan rambutku yang kamu pakai kemana???” Jeritku lagi.
“Mama…!!! Sarapanku mana, nih? Duh, sudah telat lagi…” Kataku sambil manyun duduk di meja makan.
Jam 6.45 AM… Aku pun berjalan meninggalkan rumah dan kemudian memasuki sebuah bajaj dan melambai-lambaikan tanganku dari dalam bajaj pada keluargaku yang berjejer rapih di taman depan rumahku.
“SMA- Kasih Ibu-, Pak…” Kataku sama si supir bajaj.
“Oke, non. Eh, masuk SMA itu? Wah, keren…” Puji si tukang bajaj.
“Iya, dong… Jawabku bangga…”

Tarraaa!!! Sekarang aku SMA dan aku sangat senang sekali. Memakai putih abu-abu menjadi kebanggaan sendiri bagiku. Kutelusuri sekolah baruku yang mewah yang ternyata bisa kutembus karena memang otakku encer. Hei! Ini sekolah favorite banget, tauuu… Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah artikel yang terpampang di mading berjudul, “62 % Pelaku Aborsi adalah Pelajar”
“Edannn…” Pekikku sambil menutupi mulutku yang menganga karena terkejut. Huft, baru masuk sekolah langsung disuguhi bacaan seperti itu. Aku segera berlalu lalu mencari kelas baruku yang mana.

Tapi…
Bruuukkk!!! Aku menabrak tubuh seseorang dan aku pun terjatuh ke lantai. Aku meringis kesakitan dan mengangkat wajahku ingin tahu siapa yang menubruk aku. Tapi belum sempat aku memaki-makinya, aku terhenti saat melihat wajah nan tampan sedang tersenyum menatap aku.
“Maaf… Kamu ga apa-apa?” Tanyanya lembut.
“Eh, enggak… enggak…” Jawabku bohong. Tangannya yang kekar menolong aku berdiri dengan lembut.
“Nama kamu siapa?” Tanyanya.
“Tiara…” Jawabku. “Panggilannya Ara…”
“Ara… Oh, aku Donie…” Dia menjabat tanganku erat. “Maaf, yah.”
Dan dunia makin begitu indah begitu aku tahu dia menjadi teman satu kelasku. Walau tidak sebangku namun aku duduk di bangku yang setidaknya bisa memandang sudut indahnya dengan jelas. Oh…

Hei, kalian tahu cinta pertama itu? Maksudku, aku belum pernah merasakannya. Baik itu saat aku masih memakai rok biru tua yang menyebalkan. Aku belum pernah pacaran dan itu sangat menyiksa, secara aku ini anak yang selalu ingin tahu, lebih dan lebih.

Sudah empat bulan lamanya aku memakai seragam putih abu-abu. Dan akhirnya ada juga yang menyatakan cintanya padaku. Oh, my God! Rasanya seperti cokelat. Manis sekali.
“Ara… Aku suka sama kamu…”
Dia bilang begitu, dan kau tahu? Yang omong seperti itu adalah Donie. Cowok keren yang tubrukan sama aku di hari pertamaku pergi ke sekolah. Dan akhirnya kami berpacaran. Ahay! Baru kali aku merasakan dibonceng sama orang yang kita cintai. Biasanya juga sama bajaj doang. Hiks… Menyedihkan.
“Pokoknya pacaran harus jaga diri…” Omel Mama suatu ketika.
“Maksudnya, Ma? Duduk aja gitu?” Tanyaku bodoh.
“Engga… Jaga diri dari kelakuan maksiat.”
“What!!!” Aku terkejut mendengar kata Mama waktu itu.

Inilah maka kusebut bahwa cinta pertama itu adalah Tantangan. Jika kamu hebat maka kamu akan menang dari sesuatu yang terlalu menantang itu. Tetapi ternyata aku kalah. Karena aku adalah orang yang selalu ingin tahu.
“Kalian kompak banget. Udah jadi kayak suami istri aja.” Sindir sahabatku Mira.
“Biarin…” Jawabku dengan penuh emosi.

Cara berpacaranku dengan Donnie memang terlalu intim. Sampai-sampai satu kelas mengejek kami, suami-istri. Kemana-mana selalu sama, pergi ke kantin, pergi ke pesta ulangtahun teman, pergi ke toko buku dan bla bla bla.
Sampai suatu ketika ada hal yang tak bisa aku hindari lagii. Habisnya, aku dipaksa tapi aku juga mau…karena ingin tahu..
“Buktikan cinta kamu sama aku! Kalau kamu cinta sama aku maka kamunya itu harusnya rela mengorbankan jiwa raga kamu ke aku…” Katanya menantangku.
“Apa?”
“Apa kamu cinta aku?”
“Iya… Iya…”
Akhirnya terjadilah sesuatu yang belum pantas dilakukan oleh Siswa yang masih  berseragam putih abu-abu seperti kami berdua.

 “Donn… Aku hamil…” Tangisku suatu ketika.
“Apa?” Donni terkejut dan itu aku katakan saat kami berada di kamar kostnya sedang melakukan hubungan intim. Dia berdiri lalu memakai lagi seragamnya, sementara aku menangis.
“Gugurin saja…” Kata Donnie.
“Aku takut…” Jawabku pelan.
“Jadi mau bagaimana lagi? Masa biarin lahir gitu aja? Aku masih sekolah, kamu juga. Masa depan kita hancur…” Katanya penuh emosi.

Lama aku berpikir dan segalanya itu aku masih ragu. Aborsi??? Itu menyakitkan bukan? Akhirnya entah dari mana jalannya Donnie mengantar aku pada seorang bidan yang membuka praktek illegal.
“Rasanya gimana, Bu?” Tanyaku pelan.
“Sakit sekali…”
“Efeknya…”
“Banyak, nak. Kamu harus berfikir ulang melakukannya. Nanti kamu menyesal. Pendarahan, infeksi bahkan kanker payudara. Apa kamu mau? Ibu memang bisa saja melakukan itu sama kamu. Tapi ibu harap kamu fikirkan matang-matang.”
Ngilu sekali saat membayangkan aborsi itu bagaimana. Namun apa mau dikata ini harus kulakukan. Aku tidak boleh membiarkan orangtuaku menangisi masa depanku yang tidak cemerlang.
“Biayanya?”
“Tujuh juta…” Jawab Bu bidan singkat.
“APA???” Aku dan Donnie membelalakkan mata dan mana mungkinlah kami punya uang sebanyak itu. Ternyata biaya aborsi mahal sekali. Hiks…

Kami pun pulang dari tempat praktek illegal itu dengan kegalauan di hati. Jika didiamkan makin lama tentu akan menjadi bumerang bagi kami berdua. Semangat belajar kami turun drastis dan bahkan kami sering bolos sekolah hanya karena sibuk memikirkan bagaimana caranya mengumpulkan uang untuk aborsi.
“Ra, aku udah jual handphone blackberry-ku…” Kata Donnie sambil menunduk dan menunjukkan uang hasil penjualan blackberrynya.
“Maafin aku yah Mas…” Kataku.
“Ga apa-apa… Tapi uang ini belum cukup.”
“Ya, udah… Aku jual netbook-ku, Mas… Nanti kalo ditanya Papa aku bilang aja hilang.”

Ternyata uang hasil penjualan keduanya tidak cukup. Kau tahu jalan terakhirnya apa? Akhirnya aku pergi untuk mencari oom-oom untuk meniduri aku. Pedih rasanya, namun ini harus kulakukan kalau tidak mungkin aku akan melahirkana anak yang nantinya akan menghancurkan masa depanku.
“Mas… Hiks… Aku tidur sama Oom-oom… Aku ga rela sebenarnya, tapi… Hiks…”
“Mau gimana lagi…” Donnie menunduk.

Akhirnya kami kembali lagi ke tempat praktek aborsi illegal itu dan menggugurkan si bayi mungil. Aku menyesal sungguh menyesal. Anak bayi yang ingin hidup aku bunuh seketika. Tuhan, maafkan aku… Tangisku dalam malam yang beku.

Cinta pertama bodoh. Setelah aborsi, aku dan Donnie masih melakukannya walau sekarang kami tahu cara mencegahnya. Stok pil KB selalu ada di dalam tasku, stok kondom juga selalu ada di dalam tas Donnie. Aku sangat kotor. Dan aku bukan perempuan yang baik.

Jelang tamat SMA, Donnie menghilang begitu saja. SMS dan Teleponku tak digubris, aku menangis sejadinya. Selalu kutanyakan pada teman-temanku dimana keberadaannya tetapi tak ada yang mengetahui. Sama sekali. Bahkan pertemanan di akun-akun jejaring sosialnya, aku dihapus. Dia pergi begitu saja, cinta pertamaku menguap begitu saja. Setelah dia bosan menyedot kemanisan yang ada padaku.. (AN)

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuuh.

Minggu, 12 Februari 2012

Apakah Ini Yang Disebut Ummatku?


Tantangan Bagi Ummat Muslim Untuk Menolong Agama Allah
(Menafkahkan Sebagian Hartanya Di Jalan Allah)

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuuh
Bismillahirrahmaanirrahiim

"Pagi itu mentari telah naik sepenggalah, usai shalat dhuha kulihat ke sekeliling isi masjid. Ada tiga orang lain yang sama-sama melaksanakan shalat dhuha. Mereka adalah orang-orang yang istiqamah melaksanakan shalat dhuha setiap paginya.

Pertama, seorang penjual kerupuk. Orang yang tak asing lagi bagiku. Setiap pagi beliau lah yang pertama hadir di masjid untuk shalat dhuha.
Kedua, seorang penjual koran. Beliau juga orang yang sudah biasa mampir setelah berkeliling menjajakan koran-korannya.

Ketiga, seorang pengumpul barang bekas. Pak Fulan ini hampir tiap hari mampir kecuali hari ahad saja. Karena pada hari ahad, beliau tidak bekerja seperti biasanya. Katanya beliau pergi ke pengajian ahad pagi di salah satu masjid di tengah kota Bandung.

Usai shalat, aku terlarut dalam munajat pada-Nya. Memohon kelapangan dan keberkahan atas semua rizqi yang Allah beri. Tiba-tiba Pak Fulan (seorang pengumpul barang bekas) datang menghampiri.

Setelah mengucap salam Pak Fulan menyapa,
"Pak Ustadz, maaf bapak gangu sebentar."

"MasyaAllah, gak usah pake ustadz Pak Fulan, ana kan cuma khodimat di masjid ini." jawabku.

"Iya lah enggak apa-apa, bapak cuma mau minta pendapat Pak Ustadz. Mudah-mudahan ada pencerahan buat bapak sekeluarga. Boleh kan Pak Ustadz?"

"Sekeluarga? Memang Pak Fulan ini mau tanya soal apa? Selama ana mampu insyaAllah ana bantu."

Pak Fulan terdiam sejenak, menghela nafas panjang dan berkata,
"Gini Pak Ustadz, apakah dosa jika seseorang menjual organ tubuhnya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya?"

Merasa heran, aku mengerutkan dahiku. Pertanyaan aneh yang pernah kudengar.
"Maksud Pak Fulan? Kenapa bapak bertanya begitu?"

Pak Fulan kembali menghela nafas panjangnya,
"A ustadz tau kan kondisi keluarga bapak. Istri bapak sedang sakit, butuh biaya pengobatan yang tak sedikit. Jangankan untuk biaya pengobatan, bisa makan sehari dua kali aja sudah alhamdulillah. Kadang-kadang kami harus berpuasa sampai tiga hari untuk menghemat. Kebetulan paman dari istri juga sedang sakit dan membutuhkan ginjal kanan. Hasil pemeriksaan sementara ini baru ginjal bapak yang cocok. Bapak ditawari 20 juta. Jumlah yang cukup banyak buat kami, bukan?"

"Lantas Pak Fulan berniat menjual ginjal bapak? Begitu?" tanyaku semakin heran.

"Iya Pak Ustadz.. Saat ini, mungkin itu satu-satunya jalan bagi kami..." jawabnya dengan senyum lemah.

Aku hanya terdiam. Rasa dingin menyelimuti ragaku. Rasa sesak memenuhi rongga dadaku. Mataku pun turut berkaca-kaca, seakan merasakan kesusahan yang dialami Pak Fulan.

"Gimana Pak Ustadz, dosa apa enggak?" tanya Pak Fulan menyadarkan senyapku.

Ku hela nafas panjang, tuk hilangkan sesak dalam dada.
"Dosa atau tidak, hanya Allah yang tahu. Tapi apa tidak ada cara lain selain itu Pak?"

"Rasanya sudah tidak ada jalan lain. Bapak tidak punya apa-apa untuk dijual atau pun digadaikan. Mau kerja, bapak sudah terlalu tua. Mau buka usaha, modal tidak ada. Jangankan meminta, meminjam saja tak ada yang mau memberi pinjaman. 'Mau bayar pake apa?' kata mereka." keluhnya lagi semakin dalam, seiring lintasan air mata di pipinya.

Semakin kudengar keluhannya, semakin sesak seluruh rongga dalam dadaku. Air mata pun tak mampu kubendung lagi. Dengan lirih hatiku merintih,
"Wahai para aghnia, kalian dimana?! Di depanku ada seorang lelaki sholeh butuh bantuan kalian. Mana hak mereka dari harta-harta kalian?!"

Dalam tangis tertegun itu, antara sadar dan tidak, pandanganku seakan disilaukan oleh sebuah cahaya yang menerangi seisi masjid. Menyilaukan pandanganku pada sekelilingku. Hingga samar-samar kudengar suara lemah lembut,

"Beginikah keadaan ummatku di akhir zaman?
Seperti inikah ummat yang aku cintai di akhir zaman?
Yang membiarkan saudaranya dalam kesusahan.
Terlena dalam hartanya, dalam usaha dunianya, bahkan dalam ibadahnya.
Sementara mereka lupa ada saudaranya yang kesusahan.
Apakah seperti ini yang disebut ummatku?
Demi Allah, kalian tak layak jadi umatku, hingga kalian saling menyayangi sesama kalian."

"Allahumma shalli 'alaa sayyidinaa Muhammad, itukah suara engkau Ya Rasulullah?" gumanku dalam qalbu dengan isak tangis yang tak terhankan lagi.

Entah itu benar, atau hanya khayalku saja. Kejadian ini benar-benar menyadarkan aku agar tidak terlarut dalam segala sesuatu hingga lalai memperhatikan saudara-saudaraku."

"Allahummaghfir lil mu'miniina wal mu'minaat, wal muslimiina wal muslimaat, al ahyaa`i minhum wal amwat, innaKa samii'un qariibun mujiibu da'wat, bi rahmatiKa Yaa Arhamar Raahiimiin."

Amiin Allahuma Amiiin.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuuh...(AN)

Sabtu, 11 Februari 2012

Tantangan Bagi Ummat Muslim Untuk Menolong Agama Allah


Tantangan Bagi Ummat Muslim Untuk Menolong Agama Allah
(Menafkahkan Sebagian Hartanya Di Jalan Allah)

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuuh
Bismillahirrahmanirrahiim..

Siang Itu Istri Saya Dan Ibu Ridwan (Tetangga) Sebelah rumah Sedang Perjalanan Ke Pasar Ruko Untuk Membeli Kebutuhan Memasak. Didalam Perjalanan , Ada 2 Orang Anak Yang Sedang Mengamen Di dalam Kendaraan Umum tersebut . Mereka Mengenakan Pakaian Santri Yang Sudah Lusuh Sambil Membawa Kentrung (Gitar Kecil) dan Melantunkan Lagu Shalawat Nabi Rasulullah. Usia Mereka +/- Sekitar 10 Tahun. Istri Saya Memberikan Uang Rp 1000,-

Di Dalam Perjalanan Itu Istri saya memanjatkan Doa Untuk Mereka berdua Serta Bersyukur Kepada Allah Atas Nikmat Yang Sudah Kami terima. Dia (Istri Saya) merasakan ada Sesuatu Keharuan yang mendalam dan Kuat sekali rasa sedih dan bangga setelah melihat Pemandangan Itu. Mereka Berdua Yang Masih Dibawah Umur Dengan Semangat Juang Yang Tinggi Untuk Mencoba Bertahan Dan Menanggulangi Kehidupan. Ternyata Mereka Berdua Ini Adalah Santri Dari Salah Satu Yayasan Anak Yatim Piatu..

Mereka Ini Tidak Selayaknya Berada Di Jalanan Mencari Mencari Biaya Pendidikan Dengan Cara Mengamen. Apalagi Berjuang Demi Mempertahankan Hidup . Mereka Nampak Tegar dan Percaya Diri. Disisi Lain Ada Kehidupan Mewah Mereka Yang Bergelimang Harta Bahkan Berlebihan bingung menghamburkan Hartanya . Sungguh Pemandangan Unik Karena Berseberangan Dengan Kehidupan Kedua Bocah Pengamen Tadi.

Mereka Berdua Tidak merasa Putus asa /patah Semangat,Hanya Dengan Bekal Ilmu Dari Yayasan Yatim Piatu, Mereka Pantang Menyerah Dan Yakin Bahwa Allah SWT Akan Memberikan Kasih Sayang .

Hal Ini Membawa Saya Dan Istri Saya Tergerak Untuk Tidak Menghardik / Menolak Setiap Sumbangan Yang Diajukan Oleh Para Pencari Dana Yang Mengatas namakan Suatu Lembaga / Yayasan Anak Yatim Baik Dirumah Ataupun Di luar rumah.
Sungguh Luar Biasa Misteri Hidup Ini Dan Masih Banyak Pengamen-pengamen Lain Yang Menunggu.

Kami Sedikit terhibur karena tidak melalui Kehidupan Yang dialami kedua bocah tadi. Dalam bentuk Syukur Nikmat Yang diberikan Allah Serta Kecintaan Kami KepadaNya Hanya Dengan Menyisihkan Sebagai an Harta Demi Menolong Agama Allah.
Dan Kejadian Ini Banyak Memberi Inspirasi dan Hikmah Bagi Kami Sekeluarga.

------------------------------------------------------------------------------

Yayasan Panti Asuhan ARRIDHO
Jl Caringin No 13, Kel rangkapan jaya Depok
Phone 021-7791153
(masuk jalan depan al hamidiyah)

============================================
Wahai Hamba-hamba Yang Dimulyakan Allah
Dengan Ini Mari Bersama-sama Menolong Agama Allah, Karena Junjungan Kita Rasulullah Muhammad SAW yang telah menyerukan Sesuai Firman-firman Allah SWT sabagai berikut :

“Wahai Orang-orang Yang Beriman,Jika Kamu Menolong Agama Allah , Niscaya Dia Menolong Kamu dan Memperteguh Kedudukanmu” (QS Muhammad – 7)

“Berimanlah Kamu Kepada Allah Dan RasulNya Serta Nafkahkanlah (Di Jalan Allah) Sebagian dari Hartamu Yang Dia Jadikan Kamu Menguasainya . Maka Masing-masing Yang Beriman Diantara Kamu Dan Mereka Menafkahkan (Sebagian Hartanya) Bagi Mereka Pahala Yang Besar“ (QS Al-Hadiid -7)

“Barang Siapa Yang Kafir (Tidak Percaya) Maka Atasnyalah (Akibat) Kekafirannya Dan Baranmg Siapa Yang Beramal Soleh,Maka Pahalanya Itu Untuk Diri Mereka Sendiri. Dan Sesungguhnya Mereka Telah Mempersiapkan (Kesenangan Untuk Diri Mereka Sendiri Di Akhirat Nanti)” (QS Ar Ruum – 44)

“Karena Dia (Allah) Akan Memberi Balasan kepada Orang-orang Yang Beriman Dan Beramal Sholeh Dari KaruniaNya. Sesungguhnya Dia Tidak Menyukai Orang-orang Yang Kafir” (QS AR Ruum – 45)
============================================
Barokallahufikuum..Jazakumullahu Khairan Kashiro.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuuh.

Mengambil “HIKMAH” Dari Wasiat Nabi Khidir Kepada Nabi Musa



Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuuh
Bismillahirahmanirohiim

Pesan Makrifat Nabi Khidir ketika berpisah dengan Nabi Musa,

Dia (Musa) berkata, “Berilah aku wasiat”.

Jawab Nabi Khidir :
Wahai Musa, jadilah kamu orang yang berguna bagi orang lain
Janganlah sekali-kali kamu menjadi orang yang hanya menimbulkan kecemasan diantara mereka sehingga kamu dibenci mereka.
Jadilah kamu orang yang senantiasa menampakkan wajah ceria dan janganlah sampai mengerutkan dahimu kepada mereka.
Janganlah kamu keras kepala atau bekerja tanpa tujuan.
Apabila kamu mencela seseorang hanya karena kekeliruannya saja, kemudian tangisi dosa-dosamu, wahai Ibnu Imron!

1. “Wahai Musa”, jadilah kamu seorang yang berguna bagi orang lain.Sebaik-baiknya manusia yang berguna bagi orang lain karena keberadaannya sangat dibutuhkan dan andaikata dia pergi, mereka merasa kehilangan sehingga yang akan dijadikan panutan tidak ada, dan sebagai penggantinya yang setaraf pun tidak ada.

2. Janganlah sekali-kali kamu menjadi orang yang hanya menimbulkan kecemasan diantara mereka sehingga kamu dibenci mereka.
Kerukunan dan ketentraman lingkungan didambakan disetiap warga. Dan apabila ada seseorang yang membuat resah masyarakat yang menimbulkan kecemasan mereka, kepergiannya tidak akan dinantikan kedatangannya lagi. Dengan kepergiannya, masyarakat merasa tentram, keberadaannya disetiap yang ditempati selalu dibenci dan bahkan diusir.

3. Jadilah kamu orang yang senantiasa menampakkan wajah ceria dan janganlah sampai mengerutkan dahimu kepada mereka.
Muka cemberut dan kusam menunjukkan wajah atau hati sedih dan kurang senang pada keadaan. Terimalah apa adanya dengan senang hati, jalani saja kehidupan ini dengan ketabahan dan sabar, walaupun pahit dirasa. Kejadian apapun yang kita alami, pasti Allah akan memberikan hikmah dan pelajaran dibaliknya. Dengan demikian kesedihan pun sirna dengan sendirinya, dan wajah kelihatan berseri-seri tampaklah muka ceria.

4. Janganlah kamu keras kepala, atau bekerja tanpa tujuan.
Keras kepala adalah sifat yang harus disingkirkan jauh-jauh, karena bisa mengalahkan sifat-sifat baik lainnya, kalau sifat keras kepala masih mendominasi pada diri yang akibatnya dapat merugikan diri sendiri bekerja pun tak terarah dan sia-sia.

5. Apabila kamu mencela seseorang, hanya karena kekeliruannya saja. Kemudian tangisi dosa-dosamu. Menyalahkan orang lain atau mencela tidak diperbolehkan oleh Nabi Khidir karena beliau berlandaskan firman Allah dalam surat Al Insyiqaq ayat 19 :
“Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kejadiannya)”.
Manusia diciptakan oleh Allah tingkat demi tingkat, salah satunya tingkat pemahaman belum berubah atau berbeda sebab yang dicela tingkat pemahamannya dibawah yang mencela, logislah yang mencela atau menyalahkan tidak dibenarkan. Orang kelas 3 kok disalahkan oleh orang kelas 5. Seharusnya kelas 5 yang mengalah, dan harus tahu bahwa perbuatan itu kurang benar, segeralah mohon ampun kepada Allah dan jangan diulangi lagi.

Pesan ke Dua.

Diriwayatkan bahwa setelah Khidir akan meninggalkan Nabi Musa, dia (Khidir) berpesan kepadanya :

Wahai Musa, pelajarilah ilmu-ilmu kebenaran agar kamu dapat mengerti apa yang belum kamu fahami, tetapi janganlah sampai kamu jadikan ilmu-ilmu hanya sebagai bahan omongan. (Riwayat Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Asakir).

Faham sesuatu ilmu bukan untuk modal berdebat, menonjolkan sesuatu faham yang berseberangan dan faham yang baru selesai dipelajarinya itu adalah yang paling benar sehingga bangga atas golongannya itu dan mengajak adu argument bahwa dialah yang paling benar sendiri, ini tidak dibenarkan sebab berdebat itu tidak diperbolehkan sebagaimana surat Al Baqarah ayat 139 :
“Katakanlah, apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu, bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada Nya kami mengikhlaskan hati”.

Berseberangan faham yang sudah diyakini tidaklah perlu diusik satu sama lain karena masing-masing sudah kokoh dalam keyakinannya hanya saja ajakan orang-orang yang masih ngambang atau yang belum iman.

Pesan ke tiga.

1. Wahai Musa, sesungguhnya orang yang selalu memberi nasehat itu tidak pernah merasa jemu seperti kejemuan orang-orang yang mendengarkan.
Memberi nasehat kepada orang lain janganlah mengharapkan sesuatu imbalan apapun kecuali ridha Allah dan tugas menyampaikan. Tugas menyampaikan dan mensyiarkan agama Allah adalah tugas setiap umat muslim, firman Allah dalam surat Al Hajj ayat 32 mengatakan :
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati”.
Dan kita sendiri jangan merasa bosan-bosan untuk menengarkan para penceramah itu termasuk tholabul ilmi yang diwajibkan pada setiap muslim, walaupun ilmunya banyak.

2. Maka janganlah kamu berlama-lama dalam menasehati kaummu.
Berilah nasehat singkat, padat, berisi dan yang penting tidak membosankan.

3. Dan ketahuilah bahwa hatimu itu ibarat sebuah bejana yang harus kamu rawat dan pelihara dari hal-hal yang bisa memecahkannya.
Iman didalam hati belum tentu sudah kokoh tanpa djaga dan dirawat dan dipelihara karena lapisan luar hati masih dipenuhi oleh hawa nafsu yang selalu mengajak ke arah perbuatan yang kurang baik. Maka dari itu waspadalah dalam menjaga hati jangan sampai hati terpengaruh dari hasutan syaitan yang cara penyusupan penyerangannya lewat hawa nafsu. Begitu hati sudah terkena pengaruh hawa nafsu pecahlah hati ini. Dan hati-hatilah dalam menjaganya.

4. Kurangilah usaha-usaha duniawimu dan buanglah jauh-jauh dibelakangmu, karena dunia ini bukanlah alam yang akan kamu tempati selamanya.
Dunia yang kita tempati ini tidaklah selamanya kita tempati dan setelah selesai hidup kitapun pindah di alam lain, maka kumpulkan amal kebajikan untuk modal menuai di akhirat nanti. Jangan buang-buang tempo, tanamlah amalmu untuk menggapai kebahagiaan di alam akhirat, apabila tidak ditanami amal kebajikan apa yang diambil disana kita akan rugi di dunia dan di akhirat. Waktu kita di dunia hanya sebentar, tidaklah lama sebagaimana keterangan surat An Naziyat ayat 46 :
“Pada hari mereka melihat hari kebangkitan itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) diwaktu sore atau di pagi hari”.

5. Kamu diciptakan adalah untuk mencari tabungan pahala-pahala akhirat nanti.
Semua makhluk yang bernama manusia beramar ma’ruf nahi munkar. Mengerjakan amal yang baik untuk bekal di akhirat serta mencegah hal yang munkar untuk diri sendiri dan dilanjutkan kepada orang lain yang menjalani hal yang munkar yang dilarang.

6. Bersikap ikhlaslah dan bersabar hati menghadapi kemaksiatan yang dilakukan kaummu.
Sabar dalam menghadapi kemaksiatan dilingkungannya, ini bukan berarti diam tetapi sabar dalam bentuk berusaha mencegah dan menggantikan dengan perbuatan yang baik. Apabila mengalami kesulitan, bersabarlah, mencari solusinya dan jalan keluar yang baik.

7. Hai Musa, tumpahkanlah seluruh pengetahuan (ilmu) mu, karena tempat yang kosong akan terisi oleh ilmu yang lain. Kewajiban manusia yang berilmu untuk membagi ilmunya kepada orang lain yang membutuhkan, bukan ilmu yang diberikan kepada orang lain itu habis tetapi malah sebaliknya justru bertambah banyak. Apa sebabnya?. Karena, ilmu yang kita berikan kepada orang lain dengan ikhlas dan ridha, Allah pun ridha menambah ilmu Nya kepada orang tersebut.

8. Janganlah kamu banyak mengomongkan ilmumu itu, karena akan dipisahkan oleh kaum ulama’.
Membicarakan ilmu yang sudah dicapai dengan predikat ilmu mukasyafah dengan orang yang diluar kelompoknya yang masih dibawah jauh dari ilmu yang dicapai, maka akan terjadi kurang baik bagi dirinya juga bagi orang lain. Pendapat mengenai hal ini, Imam Al Ghozali mengatakan, Pengetahuan-pengetahuan yang begini yang hanya boleh dikemukakan melalui isyarat, tidak diperkenankan untuk diketahui setiap manusia. Begitulah halnya dengan orang yang berpengetahuan tersebut tersingkap padanya, dia tidak boleh mengungkapkannya kepada orang yang pengetahuan tersebut tidak tersingkap atasnya. (Sufi dari Z.Z. hal. 181).

9. Maka bersikaplah sederhana saja, sebab sederhana itu akan menghalangi aibmu dan akan membukakan taufiq hidayah Allah untukmu.
Menjalani kehidupan dengan kesederhanaan ini berartisudah meninggalkan kehidupan keterikatan dengan keduniawian. Banyak tokoh-tokoh Sufi yang tadinya hidup dalam kemewahan ditinggalkannya untuk hidup dalam kesederhanaan. Dengan hidup sederhana hatinya tidak disibukkan dengan harta. Ibadah kepada Allah lebih tenang dan khusu’, dalam pendekatannya kepada Allah serasa tak mengalami kesulitan.

10. Berantaslah kejahilanmu dengan cara membuang sikap masa bodohmu (ketidak pedulian) yang selama ini menyelimutimu.
Menahan dan menyingkirkan sifat-sifat yang kurang baik bukan main susahnya kalau tidak dilandasi dengan dzikir kolbu, sebab dzikir kalbu dapat mengikis sifat-sifat yang kurang baik yang sekian lama membelenggu diri. Dengan dzikrullah yang dikerjakan di kalbu, disamping menghilangkan sifat-sifat yang kurang baik, sifat-sifat yang baik pun menguasai diri dan menambah ketenangan dan ketentraman hati.

11. Itulah sifat orang-orang arif dan bijaksana, menjadi rahmat bagi semua. Orang-orang arif identik dengan orang-orang Sufi, orang-orang Sufi kebanyakan adalah para wali Allah yang menjadi rahmat bagi semua orang.

12. Apabila orang bodoh datang kepadamu dan mencacimu, redamlah ia dengan penuh kedewasaan serta keteguhan hatimu. Meredam kemarahan orang yang memarahi di awali melatih penahanan hawa nafsu dan meredam keinginan hawa nafsu yang ingin bergolak. Setelah mampu meredam hawa nafsu, meredam amarah orang lain dengan kelembutan sifat dan keteguhan hati.

13. Hai putra Imron, kamu sadari bahwa ilmu Allah yang kamu miliki hanya sedikit. Ilmu yang dipunyai manusia itu hanya sedikit, itupun Allah lah yang memberinya sedangkan ilmu yang Allah miliki tak terhingga sebagaimana di surat Luqman 27: “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

14. Sesungguhnya menutup-nutupi kekurangan yang ada pada dirimu atau bersikap sewenang-wenang adalah menyiksa diri sendiri. Menutupi kekurangan diri sendiri juga sama dengan menutup diri yang tidak mau menerima dari luar diri. Akhirnya kebodohan yang didapatkan sebaiknya sifat terbuka atau keterbukaan dari segala hal akan terbukalah hal-hal yang tersembunyi. Termasuk dapat terbukanya ilmu Allah maka jangan tutupi dirimu, terbukalah.

15. Janganlah kamu buka ilmu ini jika kamu tidak bisa menguncinya. Jangan pula kamu kunci pintu ilmu ini jika tidak tahu bagaimana membukanya, hai putra Imron. Membuka ilmu adalah tugas seorang guru, mursyid, atau pembimbing. Jadi beliau sudah mampu membuka dan menutup ilmu. Kenapa ilmu yang sudah dijalani oleh seorang murid ditutup?, disebabkan si murid ada kesalahan besar yang sudah tidak dapat diajak memperbaiki untuk meluruskan pelajaran ilmunya. Makanya harus ditutup, supaya dibelakang hari tidak ada permasalahan yang lebih besar lagi. Kalau tidak tahu cara menutup ilmu, jangan sekali-kali membukanya walau tahu cara membuka ilmu tersebut, sebab kalau nanti ada konflik dikemudian hari tidak akan merepotkan. Bisa saja ilmu yang baik ini diselewengkan.

16. Barang siapa yang menumpuk-numpuk harta benda, dia sendiri bakal mati tertimbun dengannya hingga dia merasakan akibat dari kerakusannya itu. Sebagaimana kisah kerakusannya Korun, dia seorang yang tamak terhadap harta tidak dipergunakan untuk perjuangan agama Allah, sehingga dia tertimbun hartanya.

17. Namun, semua hamba yang selalu mensyukuri karunia Allah serta memohon kesabaran atas ketentuan-ketentuan Nya, dialah hamba yang zuhud dan patut diteladani. Orang-orang yang pandai mensyukuri nikmat Allah dan jangan dlolim atas nikmat pemberian Nya. Andai kata kita tidak mau mensyukuri nikmat atas pemberian dari Nya, Allah pun murka sebagaimana diterangkan dalam surat Ibrahim ayat 34 : “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluan) dari segala apa yang kamu pohonkan kepada Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu sangat dzalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)”. Juga sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Muslim mengatakan : “Dari Abi Yahya Shuhaib bin Sinan ra. berkata : Bersabda Rasulullah saw. sangat mengagumkan keadaan seorang mukmin sebab segala keadaannya untuk ia sangat baik dan tidak mungkin terjadi demikian kecuali bagi seorang mukmin, jika mendapat nikmat ia bersyukur, maka syukur itu lebih baik baginya dan bila menderita kesusahan ia bersabar, maka sabar itu lebih baik baginya”. Dengan meninggikan sifat sabar serta mau menerima ketentuan-ketentuan yang baik bersyukur atas nikmat dari Nya, dan menerima ketentuan yang jelek diterimanya dengan ikhlas yang didasari dengan kesabaran, dan mohon pertolongan Nya.

18. Bukankah orang yang seperti itu mampu mengalahkan nafsu syahwatnya dan dapat memerangi bujuk rayu syaitan? Syaitan membujuk manusia sejak Nabi Adam as. diciptakan di surga, dia iri dengan Nabi Adam karena Nabi Adam diciptakan lebih sempurna dari dia, bahkan dia (iblis) disuruh bersujud kepada Nabi Adam tidak mau sebab menurut dia, dia lebih dahulu dan lebih tinggi dari Nabi Adam sa. karena dia tercipta dari api. Dengan tidak maunya iblis bersujud kepada Nabi Adam, diusirlah dia oleh Allah dari surga, dan disuruh menempati neraka selamanya. Iblis mau menerima itu tapi dia masih meminta tangguh dan dalam penangguhan itu meminta lagi untuk menggoda anak cucu Nabi Adam as. Dan hanya yang ikhlaslah iblis tidak dapat menggoda, sebagaimana firman Allah di surat Al Hijr ayat 30 – 42 : 30.
Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama. 31. Kecuali iblis, ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang bersujud itu. 32. Allah berfirman : Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut bersujud) bersama-sama mereka yang bersujud itu? 33. Berkata iblis : Aku sekali-kali akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptaka dari tanah liat kering (yang berasal) dari Lumpur hitam yang diberi bentuk. 34. Allah berfirman : Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk. 35. Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat. 36. Berkata iblis : Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan. 37. Allah berfirman : (kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh. 38. Sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan. 39. Iblis berkata : Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) dimuka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka. 40. Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis diantara mereka. 41. Allah berfirman : Inilah jalan yang lurus, kewajiban Aku lah (menjaganya). 42. Sesungguhnya hamba-hamba Ku tidak ada kuasa kekuasaan bagimu terhadap mereka kecuali orang-orang yang mengikuti kamu yaitu orang-orang yang sesat.

19. Dan Dia pula orang yang mengetam buah dari ilmu yang selama ini dicarinya. Sabda Rasulullah saw. dari Abu Darda ra. mengatakan : Barang siapa yang melalui suatu jalan untuk menuntut ilmu Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. Dan para malaikat selalu meletakkan sayapnya untuk menaungi orang-orang yang menuntut ilmu, karena senang dengan apa yang mereka lakukan. Dan bagi orang-orang yang alim, dimintakan ampun untuknya oleh penduduk langit dan bumi serta oleh ikan-ikan yang ada di air. Dan keutamaan orang alim terhadap ahli ibadah (yang tidak memiliki ilmu) adalah bagaikan kelebihan sinar bulan atas bintang-bintang lainnya. Dan sesungguhnya ulama’ adalah pewaris para nabi, dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham (kekayaan dunia), akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Maka barang siapa yang mengambil ilmu itu, berarti ia telah mengambil bagian yang sempurna. (HR. Dawud Tirmidzi). (Pesan-Pesan Rasulullah hal. 167- 168).

20. Segala amal kebajikannya akan dibalas dengan pahala di akhirat. Sekecil apapun amal kebajikan yang kita kerjakan di dunia, Allah akan membalasnya karena di dunia ini kita diwajibkan menanam amal sebanyak-banyaknya, surat Az Zalzalah ayat 7 menerangkan : “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya”.

21. Sedangkan kehidupan dunianya akan tentram ditengah-tengah masyarakar yang merasakan jasanya. Jasa seorang pahlawan dikenang sepanjang masa oleh takyat.

22.Hai Musa, pelajarilah olehmu ilmu-ilmu pengetahuan agar kamu dapat mengetahui segala yang belum kamu ketahui, misalnya masalah-masalah yang tidak bisa diomongkan atau dijadikan bahan pembicaraan saja. Ilmu yang tidak bisa diomongkan itu ada beberapa macam antara lain penyampaiannya memakai bahasa isyarat, bahasa gerak, bahasa perlambang, bahasa kias, dan bahasa simbolis. Ada juga yang memakai bahasa kalbu, ada lagi cara penyampaiannya lewat mimpi dan yang setengah sadar. Menerima pelajaran seperti itu semua memang tidak bisa diomongkan kepada orang yang belum bisa memahaminya. Mempelajari ilmu yang seperti itu dimulai dengan dzikir kalbu dan menghidupkan perasaan antara lain, perasaan lahiriyah / fisik, perasaan akal / otak, perasaan kalbu / hati, serta menghidupkan perasaan indra-indra dhohiriyah maupun indra-indra batiniyah.

23. Itulah penuntun jalanmu dan orang-orang akan disejukkan oleh hatimu.
Menjadi seorang penuntun yang diawali dari dituntun oleh seorang yang sudah ahlinya. Karena kita ini ditunggu oleh mereka maka persiapkan dirimu untuk mereka. Sebab keberadaan sang penuntun ditengah-tengah mereka hatinya merasa tentram.

24. Hai Musa putra Imron, jadikanlah pakaianmu bersumber dari dzikir dan fakir serta perbanyaklah amal kebajikan.
Pakaian taqwa adalah yang paling baik untuk dipakai, dzikir adalah sarana pokok dalam kekokohan taqwa, buahnya dzikir itu bertafakkur. Ketafakkuran menghasilkan perenungan yang di amalkan dalam keseharian berbakti kepada Allah swt.

25. Suatu hari kamu tidak dapat mengelak dari kesalahan, maka pintalah ridha Allah dengan berbuat kebajikan, karena pada saat-saat tertentu akalmu pasti melanggar larangan Nya.

26. Sekarang telah kupenuhi kehendakmu untuk memberi pesan-pesan kepadamu.

27. Omonganku ini tidak akan sia-sia apabila kamu mau menurutinya.
Setelah itu Khidir meninggalkan Nabi Musa yang duduk termenung dalam tangis kesedihan. (Kisah Khidir dan 9 Tokoh Sufi oleh ABU KHALID MA. Pustaka Agung Surabaya).
Andaikata kita baca sekali lagi pesan-pesan Nabi Khidir, akan ditujukan kepada diri kita sendiri apa yang kita rasakan dan apa yang kita lakukan terhadap pesan-pesan itu. sengaja pesan-pesan itu diberi nomor dari kalimat per kalimat supaya mudah untuk menjelaskan dari pesan-pesan itu.
Untuk dapat melaksanakan pesan-pesan Nabi Khidir as. ini membutuhkan waktu dan penelaahan yang serius serta memakai kaca mata batin yang paling dalam serta pemahaman tersendiri.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuuh.