Rabu, 22 Agustus 2012

Ketika Seseorang Mendapatkan Hidayah



Bismillahirrahmanirrahiim
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuuh

Abdul Wahid bin Zaid berkata,

“Ketika itu kami naik perahu, angin kencang berhembus menerpa perahu kami, sehingga kami terdampar di suatu pulau. Kami turun ke pulau itu dan mendapat seorang laki-laki sedang terdiam menyembah patung.

Kami berkata kepadanya,

‘Di antara kami, para penumpang perahu ini tidak ada yang melakukan seperti yang kamu perbuat.’

Dia bertanya,.,‘Kalau demikian, apa yang kalian sembah?’
Kami menjawab,.‘Kami menyembah Allah.’
Dia bertanya, ‘Siapakah Allah?’
Kami menjawab, ‘Dzat yang memiliki istana di langit dan kekuasaan di muka bumi.’
Dia bertanya, ‘Bagaimana kamu bisa mengetahuinya?’
Kami jawab, ‘Dzat tersebut mengutus seorang rasul kepada kami dengan membawa mukjizat yang jelas, maka rasul itulah yang menerangkan kepada kami mengenai hal itu.’
Dia bertanya, ‘Apa yang dilakukan rasul kalian?’
Kami menjawab, ‘Ketika beliau telah tuntas menyampaikan risalah-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala mencabut ruhnya. Kini utusan itu telah meninggal.’
Dia bertanya, ‘Apakah dia tidak meninggalkan sesuatu tanda kepada kalian?’
Kami menjawab, ‘Dia meninggalkan kitabullah untuk kami.’
Dia berkata,… ‘Coba kalian perlihatkan kitab suci itu kepadaku!’
Kemudian kami memberikan mushaf kepadanya.

Dia berkata, ‘Alangkah bagusnya bacaan yang terdapat dalam mushaf itu.’
Lalu kami membacakan beberapa ayat untuknya. Tiba-tiba ia menangis, dan berkata, ‘Tidak pantas Dzat yang memiliki firman ini didurhakai.’ Kemudian ia memeluk Islam dan menjadi seorang muslim yang baik.’
Selanjutnya, dia meminta agar diizinkan ikut serta dalam perahu. Kami pun menyetujuinya lalu kami mengajarkan beberapa surat Al-Quran. Ketika malam tiba, sementara kami semua berangkat tidur, tiba-tiba dia bertanya,
‘Wahai kalian, apakah Dzat yang kalian beritahukan kepadaku itu juga tidur?’
Kami menjawab, ‘Dia Hidup terus, Maha Mengawasi dan tidak pernah ngantuk atau tidur.’
Dia berkata, ‘Ketahuilah, adalah termasuk akhlak yang tercela bilamana seorang hamba tidur nyenyak di hadapan tuannya.’
Dia lalu melompat, berdiri untuk mengerjakan shalat. , kemudian ia qiyamullail sambil menangis hingga datang waktu subuh.
Ketika sampai di suatu daerah, aku berkata kepada kawan-kawanku,
‘Laki-laki ini orang asing, dia baru saja memeluk Islam, sangat pantas jika kita membantunya.’
Mereka pun bersedia mengumpulkan beberapa barang untuk diberikan kepadaya, lalu kami menyerahkan bantuan itu kepadanya.
Seketika saja ia bertanya, ‘Untuk Apakah semua ini?’
Kami menjawab, ‘Sekadar infak, kami berikan kepadamu.’
Dia berkata, ‘Subhanallah. Kalian telah menunjukkan kepadaku suatu jalan yang kalian sendiri belum mengerti.., Selama ini aku hidup di suatu pulau yang dikelilingi lautan, aku menyembah dzat lain (bukan Allah Subhanahu wa Ta’ala). Sekalipun demikian, dia tidak pernah menyia-nyiakan aku…. Maka bagaimana mungkin dan apakah pantas Dzat yang aku sembah sekarang ini, Dzat Yang Maha Mencipta dan Dzat Maha Memberi rezeki akan menelantarkan aku?’
Setelah itu, dia pergi meninggalkan kami. Beberapa hari kemudian, aku mendapat khabar bahwa ia dalam keadaan sakaratul maut.
Kami segera menemuinya, dan ia sedang dalam detik-detik kematian. Setiba di sana, aku ucapkan salam kepadanya, lalu bertanya, ‘Apa yang kamu inginkan?’
Dia menjawab, ‘Keinginan dan harapanku telah tercapai pada saat kalian datang ke pulau itu, sementara ketika aku tidak mengerti kepada siapa aku harus menyembah.’
Kemudian aku bersandar pada salah satu ujung kainnya untuk menenangkan hatinya.
Tiba-tiba saja aku tertidur.
Dalam tidurku aku bermimpi melihat taman yang di atasnya terdapat kubah di sebuah kuburan seorang ahli ibadah. Di bawah kubah terdapat tempat tidur sedang di atasnya tampak seorang gadis sangat cantik.
Gadis itu berkata, ‘Demi Allah, segeralah mengurus jenazah ini, aku sangat rindu kepadanya.’
Maka aku terbangun dan aku dapati orang tersebut telah mati. Lalu aku mandikan jenazah itu dan aku kafani.
Pada malam harinya, saat aku tidur, aku memimpikannya lagi. Aku lihat ia sangat berbahagia, didampingi seorang gadis di atas tepat tidur di bawah kubah sambil menyenandungkan firman Allah.
“(Sambil mengucapkan), ‘Salamu ‘alaikum bima shabartum.’’ Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d: 24) (Al-Mawa’izh wal Majalis, 40).
---
Semoga Bermanfaat

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuuh
---ooo000ooo---
(Sumber: 99 Kisah Orang Shalih, Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, Darul Haq, Cetakan 5, Shafar 1430/2009.Artikel: www.kisahislam.net)

Manusia Tempatnya Lupa



KISAH PENJUAL MINYAK WANGI DAN SEUNTAI KALUNG

Bismillahirrahmanirrahiim
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuuh

Seorang pemuda tiba di Baghdad dalam perjalanannya menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Ia membawa seuntai kalung senilai seribu dinar. Ia sudah berusaha keras untuk menjualnya, namun tidak seorang pun yang mau membelinya. Akhirnya ia menemui seorang penjual minyak wangi yang terkenal baik, kemudian menitipkan kalungnya. Selanjutnya ia meneruskan perjalanannya.

Selesai menunaikan ibadah haji ia mampir di Baghdad untuk mengambil kembali kalungnya. Sebagai ucapan terima kasih ia membawa hadiah untuk penjual minyak wangi itu.

“Saya ingin mengambil kembali kalung yang saya titipkan, dan ini sekedar hadiah buat Anda,” katanya.

“Siapa kamu? Dan hadiah apa ini?,” tanya penjual minyak wangi.
“Aku pemilik kalung yang dititipkan pada Anda,” jawabnya mengingatkan.

Tanpa banyak bicara, penjual minyak wangi menendangnya dengan kasar, sehingga ia hampir jatuh terjerembab dari teras kios, seraya berkata, “Sembarangan saja kamu menuduhku seperti itu.”

Tidak lama kemudian orang-orang berdatangan mengerumuni pemuda yang malang itu. Tanpa tahu persoalan yang sebenarnya, mereka ikut menyalahkannya dan membela penjual minyak wangi. “Baru kali ada yang berani menuduh yang bukan-bukan kepada orang sebaik dia,” kata mereka.

Laki-laki itu bingung. Ia mencoba memberikan penjelasan yang sebenarnya. Tetapi mereka tidak mau mendengar, bahkan mereka mencaci maki dan memukulinya sampai babak belur dan jatuh pingsan.

Begitu siuman, ia melihat seorang berada di dekatnya. “Sebaiknya kamu temui saja Sultan Buwaihi yang adil; ceritakan masalahmu apa adanya. Saya yakin ia akan menolongmu,” kata orang yang baik itu.

Dengan langkah tertatih-tatih pemuda malang ini menuju kediaman Sultan Buwaihi. Ia ingin meminta keadilan. Ia menceritakan dengan jujur semua yang telah terjadi.

“Baiklah, besok pagi-pagi sekali pergilah kamu menemui penjual minyak wangi itu di tokonya. Ajak ia bicara baik-baik. Jika ia tidak mau, duduk saja di depan tokonya sepanjang hari dan jangan bicara apa-apa dengannya. Lakukan itu sampai tiga hari. Sesudah itu aku akan menyusulmu. Sambut kedatanganku biasa-biasa saja. Kamu tidak perlu memberi hormat padaku kecuali menjawab salam serta pertanyaan-pertanyaanku,” kata Sultan Buwaihi.

Pagi-pagi buta pemuda itu sudah tiba di toko penjual minyak wangi. Ia minta izin ingin bicara, tetapi ditolak. Maka seperti saran Sultan Buwaihi, ia lalu duduk di depan toko selama tiga hari, dan tutup mulut.

Pada hari keempat, Sultan datang dengan rombongan pasukan cukup besar. “Assalamu’alaikum,” kata Sultan.
“Wa’alaikum salam,” jawab pemuda acuh tanpa gerak.
“Kawan, rupanya kamu sudah tiba di Baghdad. Kenapa Anda tidak singgah di tempat kami? Kami pasti akan memenuhi semua kebutuhan Anda,” kata Sultan.
“Terima kasih,” jawab pemuda itu acuh, dan tetap tidak bergerak.

Saat Sultan terus menanyai pemuda ini, rombongan pasukan yang berjumlah besar itu maju merangsak. Karena takut dan gemetar melihatnya, si penjual minyak wangi jatuh pingsan. Begitu siuman, keadaan di sekitarnya sudah lengang. Yang ada hanya sang pemuda, yang masih tetap duduk tenang di depan toko. Penjual minyak wangi menghampirinya dan berkata:
“Sialan! Kapan kamu titipkan kalung itu kepadanya? Kamu bungkus dengan apa barang tersebut? Tolong bantu aku mengingatnya.”

Si Pemuda tetap diam saja. Ia seolah tidak mendengar semuanya. Penjual minyak wangi sibuk mondar-mandir kesana kemari mencarinya. Sewaktu ia mengangkat dan dan membalikkan sebuah guci, tiba-tiba jatuh seuntai kalung.
“Ini kalungnya. Aku benar-benar lupa. Untung kamu mengingatkan aku,” katanya.
---
Usahakan di dalam setiap aktifitas/kegiatan ,bisa lebih tertib administrasi untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Hindari hal tidak Menunda sesuatu yang akan berakibat fatal
---
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuuh
---ooo000ooo---

Jumat, 27 Juli 2012

Pengabdian Seorang Istri


Subhan tidak bisa menolak apa yang telah direncanakan orangtuanya, yaitu perjodohan dengan perempuan yang sama sekali tidak dikenalnya.
            “Azizah adalah perempuan yang sangat baik. Dia pandai menata rumah. Selain itu, dia adalah perempuan yatim piatu yang salihah,” kata ibunya.
            “Bagiku, perempuan salihah yang akan mendampingimu jauh lebih berharga dibandingkan semua perempuan cantik di dunia ini,” lanjut ayahnya mantap.
            Hati Subhan berontak. Namun, dia tidak ingin menjadi anak yang durhaka karena menentang orangtua. Akhirnya, dia pasrah dan menuruti kemauan orangtuanya.
            “Jika kau setuju, Anakku. Kami akan menjemput Azizah di kampungnya,” ujar ayahnya.
            Bagaimana mungkin aku tidak setuju? Kata subhan dalam hati.
            Subhan hanya mengangguk setuju. Ia tak ingin mengecewakan keinginan orangtuanya. Jika perjodohan ini membuat orangtuanya bahagia, Subhan akan menyetujuinya. Bagi Subhan, tidak ada yang lebih berharga selain membahagiakan orangtuanya.

            Paras Subhan yang tampan memudahkan dirinya memilih perempuan cantik mana pun yang akan dijadikan istrinya. Sebenarnya, Subhan memiliki kriteria sendiri untuk calon pendampingnya. Dia ingin mendapatkan seorang perempuan yang elok. Semua harapannya tinggal impian. Azizah, gadis yang dijodohkan dengannya, sama sekali tidak dia ketahui rupanya.

            Ketika khitbah, sekilas ia menatap wajah calon istrinya. Menurut ayah dan ibunya, Azizah baik. Subhan bisa melihat dari wajahnya yang teduh dan damai, tetapi tidak ada guratan kecantikan di sana. Aaah…
            Azizah adalah perempuan dengan rupa yang sederhana, jauh dari kriterianya. Batin Subhan menjerit, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Di lubuk hatinya, dia tetap menilai kecantikan perempuan bukan sekadar baik. Namun, perempuan itu haruslah memiliki tubuh tinggi , langsing, mata bulat lengkap dengan bulunya yang lentik, hidung mancung, bibir ranum, dan kulit yang indah. Azizah, tidaklah demikian.

            Perjodohan harus terlaksana. Subhan tidak bisa menolak keinginan orangtuanya. Dengan sekuat tenaga, Subhan mengusir kriteria perempuan dan berusaha menerima Azizah apa adanya. Berusaha mencintainya, walau rasanya itu akan sia-sia saja.
            Akhirnya, pernikahan terjadi. Subhan melihat Azizah begitu bahagia. Sinar matanya mengatakan hal itu. Subhan berusaha untuk bahagia. Demi orangtuanya, Subhan berusaha membuat semuanya terlihat bahagia, walau setiap malam hatinya menjerit. Begitu sulit melepaskan diri dari kriteria perempuan impiannya.

            Hari demi hari, dia semakin tidak mampu berpura-pura bahagia. Subhan merasa hidupnya sia-sia. Dia mulai marah dengan keadaan itu. Ya, dia mengakui bahwa Azizah melayaninya dengan baik. Azizah seorang istri yang baik, tetapi itu tidak cukup membuat Subhan mencintainya.
            Subhan mulai mengacuhakan Azizah. Azizah semakin menyadari bahwa suaminya tidak mencintainya. Subhan semakin ketus hingga akhirnya Azizah bertanya kepadanya, tetapi Subhan tak menjawab.
            “Apa pun yang kaulakukan padaku, aku akan tetap mengabdi padamu sebab kau adalah suamiku,” ujar Azizah mantap.
            Subhan hanya diam tak menyahut. Ternyata memang benar, walau Subhan bertindak seenaknya, Azizah tetap melayani Subhan dengan baik. Azizah memang istri yang baik dan benar kata orangtuanya, Azizah juga perempuan yang salihah. Saat tengah malam, dia tak pernah absen shalat tahajud dan melantunkan ayat Al-Qur’an. Namun hal itu sama sekali tidak membuat hati Subhan tergugah. Kadang, Subhan memaki dirinya sendiri. Mengapa dia begitu terobsesi pada perempuan cantik ? Bukankah dalam agama Islam diajarkan bahwa keimanan adalah faktor terpenting dalam memilih pasangan ?
            “Aku hamil,” kata Azizah suatu pagi.
            Subhan hanya menatapnya dengan dingin.

            Pada suatu hari, di tengah perjalanan menuju rumah, Subhan bertemu dengan sahabat lamanya. Wajah sahabatnya itu sungguh berduka.
            “Mengapa kau terlihat bersedih?” tanya Subhan.
            Sahabat Subhan lalu mengajak Subhan berteduh di sebuah masjid.
            “Aku ingin bercerita,” katanya.
            Subhan berjalan mengikuti sahabatnya menuju masjid. Dalam hatinya ia bertanya tentang hal yang ingin di ceritakan sahabatnya itu. Seharusnya dia bahagia karena telah menikahi seorang perempuan yang sangat cantik.
            “Ini mengenai pernikahanku. Maafkan aku, ya Allah…,” desisnya pelan. “Aku tidak bermaksud untuk menjelek-jelekkan istriku, tapi…” lanjutnya.
            “Apa yang terjadi?” tanya Subhan.
            “Kau tahu betapa aku sangat mencintai istriku. Kuakui aku jatuh cinta padanya karena dia sangat cantik dan sempurna.”
            “Ya…,” terbayang di benak Subhan wajah istri sahabatnya yang memang sangat cantik.
            “Pada awalnya, orangtuaku tidak merestui hubungan kami. Hingga Ayah menanyakan, mengapa kau tidak menikahi perempuan yang salihah? Ya, memang benar istriku tidak sempurna dalam akhlaknya. Dia adalah perempuan yang jarang mengaji dan shalat. Hatiku telah dibutakan oleh kecantikannya.”
            “Lalu?” tanya Subhan penasaran.
            “Ternyata, pernikahanku memang tidak bahagia. Istriku terlalu banyak menuntut. Awalnya, aku memaklumi karena dia memang masih awam dalam hal agama. Aku sebagai suaminya, akan berusaha menuntunnya. Namun, aku justru semakin tersiksa dengan sikapnya. Jika tuntutannya tidak kukabulkan, dia tidak memperlakukanku seperti seorang suami. Istriku sangat boros, bahkan kini aku memiliki begitu banyak utang karenanya. Ketika aku menegurnya, dia beralasan karena aku tidak bisa mencukupi kebutuhannya, padahal…”
            “Ya…?” mata Subhan membulat.
            “Tahukah kau? Orangtuaku kini jatuh miskin karena semua yang mereka miliki diberikan kepadaku demi membahagiakan istriku.”
            Subhan tertegun.
            “Kini, aku tidak memiliki apa-apa lagi. Istriku malah semakin tidak menghormatiku,” kata sahabat Subhan sambil menitikkan air mata.
            “Istriku meminta cerai. Alasannya, dia bisa lebih bahagia dengan lelaki kaya yang sanggup memberikan segalanya.”

            Cerita sahabatnya itu membuat hati Subhan teriris. Apa yang sudah dia lakukan pada Azizah sungguh tidak adil. Allah memberinya jodoh terbaik. Azizah memang tidak cantik, tetapi dia adalah seorang perempuan yang salihah. Dia adalah seorang istri yang sangat menghormati suaminya. Dia adalah istri yang tak pernah menuntutnya, bahkan dia memberikan cinta tanpa pamrih yang begitu indah.

            Selepas mendengarkan kisah pilu sahabatnya, diam-diam hati Subhan bertekad bahwa tidak ada lagi kriteria perempuan impian dalam hatinya. Bidadari itu sudah dikirimkan Allah untuknya.
            “Azizah, aku akan berusaha mencintaimu,” kata Subhan dalam hatinya.
            Sebelum pulang, Subhan menyempatkan diri ke sebuah toko untuk membeli sebuah jilbab yang cantik. Dia ingin membuat Azizah bahagia dan memberinya senyum yang manis. Setiba di rumah, ketukan pintu Subhan tidak dihiraukan.
            “Ke mana istriku?” tanyanya dalam hati.
            Kreeeek… ternyata pintu rumah tidak terkunci.
            “Assalamu’alaikum”
            “Wa’alaikum salam.” Dari arah kamar, terdengar suara lirih Azizah.
            Dengan langkah cepat, Subhan menuju kamar. Dilihatnya Azizah tergeletak di kasur dalam keadaan lemas.
            “Ya Allah, apa yang terjadi padamu?” Subhan memeluk Azizah.
            “Aku terjatuh di kamar mandi,” jawab Azizah lirih.
            “Kenapa kau tidak pergi ke rumah sakit? Tidak adakah yang menolongmu?” Subhan gusar.
            “Aku belum meminta izinmu, Suamiku.”

            Subhan menangis, dadanya terasa sesak. Dalam tangisannya, terbayang sikapnya yang tidak adil kepada Azizah. Pengorbanan dan pengabdian Azizah sungguh luar biasa. Subhan memeluk erat tubuh Azizah hingga Subhan merasakan detak jantung Azizah berhenti. Azizah meninggal dalam pelukannya dengan wajah yang sangat teduh. Dia terlihat cantik. Dalam penyesalan yang meyeruak, Subhan merasakan angin sejuk menghampiri dirinya. Cahaya cinta yang memancar dari wajah Azizah semakin kuat untuknya. Subhan menyesal karena tidak memberikan hatinya untuk perempuan itu.

            Di samping tubuh Azizah, terdapat sepucuk surat. Subhan lalu membacanya dengan pandangan yang terhalang air mata.
            Suamiku, maafkan aku karena tidak membuatmu bahagia. Berikan ridha dan ikhlasmu untukku dan anak kita. Aku mencintaimu.  ISTRIMU

            Subhan menangis tersedu-sedu, “ Kenapa cinta ini datang terlambat, ya Allah, ampuni aku ya Allah, aku menyesal, akankah aku bisa mendaptkan Azizah kembali  ya Allah ? “ .
ya….Allah menghukumnya dengan penyesalan yang luar biasa.

“sesungguhnya, dunia seluruhnya adalah benda (perhiasan) dan sebaik-baik benda (perhiasan) adalah wanita (istri) yang salihah.” –HR MUSLIM

" Diperhiaskan bagi manusia kesukaan kepada barang yang diingini, (yaitu) dari hal perempuan dan anak laki-laki, dan berpikul-pikul emas dan perak, dan kuda kenderaan yang diasuh, dan binatang-binatang ternak dan sawah-ladang. Yang demikian itulah perhiasan hidup di dunia. Namun di sisi Allah ada (lagi) sebaik tempat kembali "

 " Katakanlah: sukakah kamu aku ceritakan kepada kamu apa yang lebih baik daripada yang demikian, di sisi Tuhan mereka, bagi orang-orang yang bertakwa? Ialah syurga-syurga, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan isteri-isteri yang suci, dan keridhaan dari Allah. Dan Allah melihat akan hamba-hambaNya." ( QS. Ali Imron : 14-15 )

Minggu, 17 Juni 2012

Penyesalan Yang Luar Biasa..


(Kisah Nyata dari Amman – Jordan)

Bismillahirrahmanirrahiim
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuuh

Sepasang wanita muda sedang bersantai di sebuah bar hotel, dengan pemandangan “Laut Mati” (Dead Sea), sekitar 40 km dari kota Amman. Mereka menikmati “tequilla”, salah satu minuman keras yang paling umum disana ~ sebelum kemudian mereka beranjak pulang.

Ketika dalam perjalanan pulang, keduanya menyaksikan seorang wanita yang tergeletak di tengah jalan, keadaannya sangat mengerikan. Wanita itu sangat dikenal oleh keduanya, seorang PSK yang selalu mabuk dari hasil kerjaannya. Ia tewas ketika menyeberang dalam keadaan mabuk. Tubuhnya yang kurus dengan perut yang buncit itu dihantam sebuah truk hingga terlempar. Tulang kepalanya remuk. Paha kanannya terpisah dari tubuhnya. Perutnya robek serta terlihat kepala bayi kecil tersembul dari perut ibunya yang bermandikan darah dan arak. Pemandangan menyeramkan itu membuat kedua wanita itu jatuh pingsan.

***

Keesokan harinya kedua wanita itu bertemu di sebuah mall di kota Amman. Akan tetapi yang satu sudah jauh berubah, ia telah mengenakan jilbab. Wajahnya memancarkan cahaya taubat, kelopak matanya membengkak karena banyak menangis. Sehingga wanita kedua tampak kaget, “Hei, apa aku tak salah lihat?” serunya dengan keheranan.

Wanita pertama berkata lirih, “Aku takut dan malu pada-Nya, aku jijik terhadap diriku, aku rindu pada keindahan, pada kesucian dan kemuliaan, hanya Tuhanku yang mau memaafkanku, hanya Dia yang dapat memuliakan dan menyucikanku…” Belum selesai ia berbicara wanita kedua sudah berlalu dari hadapannya.

***

Tiga bulan berlalu. Kedua wanita itu tak pernah berhubungan lagi. Wanita pertama sedang asyik melewatkan sore harinya bersama Al-Qur’an, yang dulu sore harinya ia habiskan bersama tequilla. Tiba tiba ponselnya berbunyi. Dengan sangat berat ia berhenti dan menjawab telepon, dan ternyata si penelepon adalah temannya yang sudah tiga bulan tak pernah mau berhubungan dengannya.

Temannya berkata, “Bagaimana sih caranya bertaubat?” Dengan gembira wanita shalihah itu menjelaskannya. Tetapi temannya terdiam dan berkata dengan berat, “Sholat?, pake jilbab?, aduh malas ah, aku berat melakukannya.” Wanita shalihah itu terus memberi pengertian. Namun temannya memang kepala batu, seraya berkata, “ngga’ deh, aku belum mau jadi biarawati!”, ia memutus hubungan teleponnya.

***

Tiga hari kemudian, wanita shalihah itu mendapat kabar bahwa temannya telah menemui ajalnya. Ia bergegas untuk melayat ke rumah temannya. Ia tiba di rumah temannya bersamaan dengan ibu dari temannya tersebut. Namun ternyata mereka datang terlambat, penguburan sudah usai! Selanjutnya apa yang terjadi? Ternyata si ibu memaksa untuk melihat jenazah anaknya untuk yang terakhir kalinya, sehingga membuat para hadirin menjadi bingung. Mereka berusaha menyabarkan si ibu, namun ibu itu terus memaksa dengan terus merobeki bajunya. Akhirnya permintaannya pun dengan berat diterima, kuburan itu di gali lagi.

Dan ketika penggalian sampai pada kayu penutup mayat, mereka tercengang, karena ternyata kayu-kayu itu sudah hancur. Lebih mencengangkan lagi, kain kafannya juga sudah hancur berserakan, mayatnya hangus terbakar, rambutnya kaku bagai sapu ijuk, kedua bola matanya berada dipipinya dalam keadaan kuncup bagaikan buah kering yang terbakar. Lidahnya terjulur keluar dari mulut, mata dan telinganya mengalirkan asap yang berbau daging hangus.

Semua yang menyaksikan pemandangan itu terlonjak mundur. Ibu dan wanita shalihah itu sudah sedari tadi jatuh pingsan. Para penggali kubur yang sebelumnya melompat keluar dari liang itu segera menimbun kembali dengan cepat dan lari meninggalkan pusara.

Wanita shalihah itu semakin giat beribadah, sedang si ibu menjadi penghuni rumah sakit jiwa. Dan kubur itu menjadi kuburan terakhir yang dimakamkan di pemakaman itu, karena tak ada lagi orang yang mau menguburkan keluarganya di makam itu. Na’udzu billah.

***

“Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir.” (QS Al Hasyr-21).

***

Semoga Bermanfaat

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuuh

(By:Masroer Tour)
---ooo000ooo---